Bahasa dan SastraCerbung

Maafkan Aku, Mas! (Part II)

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Gayathree

==============

Kukibaskan tangan perlahan, padahal dalam mobil ber-AC seharusnya adem. Kulirik sebentar Arya. Ketampanannya tetap saja tak berubah.

Kupalingkan wajah ke luar. Kulihat jalanan agak lengang.

“Stop, Arya, eh, Mas! Aku turun di sini aja, bentar lagi nyampe, Kok.”

“Loh, kenapa?” tanya Arya sambil melirik ke arahku. Kulihat ada raut kecewa di wajahnya.

“Emh, tidak mengapa.”

“Ini masih siang, Ran. Baiknya kita jalan dulu deh. Masa kamu ga kangen sama aku, kita, kan, dah lama ga ketemu.”

“Kapan-kapan aja, ya.”

Aku bergegas turun, tanpa kuhiraukan tatapan matanya. Aku tahu, Arya masih ingin menikmati kebersamaan denganku. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Meskipun hatiku juga menginginkan hal yang sama.

“Ran!”

“Iya?”

“Ini kartu namaku. Suatu saat kamu pasti membutuhkannya.”

Sesaat aku terdiam. Dengan tangan gemetar, akhirnya aku menerimanya.

“Tanks, ya, Arya”

Tanpa melihatnya lagi aku terus berjalan.

Aduh mengapa aku kikuk, ya, di depan Arya. Sampai lupa bertanya kabar tentang istrinya. Tapi, sudahlah. Tak baik juga memikirkan Arya. Dia kan sudah menikah.

Sesampainya di rumah, aku segera menghempaskan tubuhku. Ingin sekali aku memejamkan mata. Namun, sedikit pun tak bisa. Bayangan Arya terus menari di pelupuk mata.

“Arya, mengapa kamu tiba-tiba hadir lagi? Padahal aku hampir saja melupakanmu.”

Aku menerawang jauh. Kembali kuingat lima tahun yang lalu.

*

SMA Cinderela. Di sanalah aku menempuh sekolah. Restu dan Rindu adalah sahabat karibku. Kami selalu bertiga ke mana pun pergi. Sampai ada yang bilang kami ini TRIO R. Karena nama kami berawalan R. Cowok-cowok selalu usil. Mereka selalu berusaha mendekati kami. Akan tetapi, kami bertiga bukan cewek yang gampang jatuh hati. Sebab kami lebih konsen dengan pelajaran daripada bucin alias budak cinta. Namun, kami mempunyai selera yang sama. Yakni menyukai cowok pintar dan keren. seperti Arya.

Arya adalah cowok paling ganteng di sekolah kami. Selain ganteng dia juga pintar. Menjabat ketua OSIS pula. Banyak cewek yang tergila-gila padanya. Aku adalah salah satu penggemar beratnya. Namun, aku selalu menutupinya. Penggemar rahasia lebih pasnya. Kedua sahabatku pun tiada hari tanpa memperbincangkannya. Cewek memang begitu, rempongnya nggak ketulungan.

Hingga pada suatu hari.

“Raaniii, Rinduuu.”

Kami segera menoleh pada suara itu.

Seorang cewek berambut keriting dengan tas sekolah gede di punggungnya. Sedang berlari ke arah kami. Restu rupanya.

“Apaan siiih teriak-teriak ini perpustakaan tahu,” pekik Rindu.

“Iya, ganjen amat,” timpalku.

“Ada kabar bahagia, kalian mau tau atau mau tau banget?”

Kebiasaan dia yang selalu bertele-tele.

“Iya, kabar apa?” tanyaku dengan menatap mata bulatnya.

“Buruan!” Rindu agak kesal.

“Oke, tapi habis ini kalian harus traktir aku makan siang di kantin. Oke!” jawab Restu

Mukanya mendekat ke arah kami. Kami pun sama-sama merapat. Dengan diliputi rasa penasaran tingkat tinggi. Tak biasa dia seperti itu, jika tak ada hal yang serius.

“Si Arya, satu kelas dengan kita”

“Apa?!”

Aku dan Rindu berteriak. Untung saja segera menutup mulut dengan tangan.

Rindu hampir saja pingsan. Aku hanya tersenyum simpul.

“Terus aku harus bilang wow gitu sambil koprol?” ketusku.

“Galak amat, sih,” seru Restu kepadaku.

Aku tak menggubrisnya lagi. Berabe kalau harus melayani mulut embernya.

Rindu melirik ke arahku. Dia pun segera berlari menuju kelas III, IPA 1. Disusul Restu. Aku hanya bisa garuk-garuk kepala yang tak gatal. Mau tak mau aku pun ikut berlari menyusul mereka berdua.

Hampir saja aku terjatuh karena kaki terpeleset, untung saja ada seseorang yang manahan badanku.

“Arya?” pekikku dalam hati.

Hampir saja jantungku copot.

“Maaf, aku tak sengaja,” ucap Arya.

“Iya, ga apa-apa. Aku yang salah, tak hati-hati,” jawabku sambil memalingkan wajah. Mungkin pipiku sudah semerah kepiting rebus. Ingin rasanya kututupi wajahku.

Aku diam termangu, rasanya tak percaya dengan apa yang barusan terjadi.

Arya berlalu pergi. Aku hanya diam sambil terus kuperhatikan hingga bayangannya menghilang di balik tembok kelas. Bel masuk pun terdengar.

Derrrh … derrrrh ….

Lamunanku buyar seketika.

“Siapa, sih, ganggu ajaaa.”

Perlahan kubuka Hp. Ada WA masuk dari nomor baru.

“Mas Andre?”

“Gak mungkin, ini gak mungkin, pasti ini hanya mimpi ….”

Tiba-tiba kepalaku pusing.

Bersambung….

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 17

Comment here