Surat Pembaca

Dilema Beraspirasi di Tengah Pandemi

blank
Bagikan di media sosialmu

wacana-edukasi.com — Sejak disahkannya omnibus law pada 5 Oktober lalu, selain menuai kritik juga merangsang munculnya demonstrasi di berbagai daerah. Kerusuhan pun tak terelakkan. Protokol kesehatan juga dilanggar.

Demonstrasi sebagai karakter negeri demokrasi adalah ciri yang paling menonjol. Menyampaikan pendapat secara berkelompok tidaklah dilarang. Namun, di saat kasus covid sedang meninggi, merupakan dilematis dalam beraspirasi.

Jika penguasa benar-benar berpihak pada rakyat tentunya tidak diperlukan demo-demo yang berujung rusuh. Undang-undang yang tidak pro-rakyat pun tidak akan terbahas di meja Dewan.

Alam demokrasi rupanya tak banyak memberikan harapan pada rakyat. Prinsip kekuasaan di tangan rakyat akhirnya terbatas pada proses pemilu. Di saat pemimpin yang didambakan bertugas, tidak sedikit yang berbuah kecewa.

Di saat asa bergantung pada wakil rakyat, yang diterima malah sikap khianat. Tupoksi menyalurkan aspirasi rakyat, kini beralih pada menyalurkan aspirasi konglomerat. Alhasil demokrasi hanya ilusi, kesejahteraan dan kebahagiaan dengan bersandar pada demokrasi tinggal mimpi. Jadi, segeralah bangun para pemimpi untuk menuju kebangkitan hakiki! Kebangkitan yang berjalan di atas metode Nabi.

Yuni Kartikajasa

Condongcatur, Sleman, Yogyakarta

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 2

Comment here