Surat Pembaca

Daring, Lahirkan Generasi Ambigu

blank
Bagikan di media sosialmu

Wacana-edukasi.com — Sejak tanggal 17 Maret 2020 pemerintah menetapkan sistem belajar secara on line atau daring (dalam jaringan). Kondisi yang memaksa masyarakat dari segala lapisan harus berpikir bagaimana menyikapi kebutuhan baik mental dan infrastruktur.

Secara mental harus menyiapkan diri mendampingi putra putri belajar dan mengerjakan tugas. Infrastruktur sudah pasti minimal handphone yang mampu dipergunakan on line atau perangkat komputer seperti laptop. Juga jaringan internet sebagai poin pokok penunjang daring dan cukup menguras isi kantong.

Beberapa anak diberi kesempatan untuk beraktivitas langsung menggunakan handphone tanpa pengawasan orang dewasa. Dengan alasan sedang menyelesaikan pekerjaan mereka.

Situasi ini yang menciptakan generasi ambigu (ketidakpastian). Tidak pasti generasi ini akan diarahkan tujuan atau diasah bakatnya. Sebab hari demi hari sibuk di dunia maya bukan nyata. Update status di medsos, chatting, dan lain-lain.

Mereka lebih mengenal tokoh dan kisah kekuatan di game daripada sejarah kebudayaan Indonesia maupun Islam.
Mereka langsung bercerita tentang Harith, Lunox (Mobile Legend game), tetapi diam saat disebut Ki Hajar Dewantara (pelopor pendidikan). Lebih hafal menggunakan poin berapa untuk sampai di level tertinggi daripada hafalan surat Al-Qur’an atau rumus-rumus matematika.

Akan Dibawa ke Mana Generasi Kita?

Dibutuhkan kerja keras juga ketegasan dari orang tua untuk mengarahkan anak-anak agar mampu menjadi generasi yang memiliki tujuan hidup dengan dasar keimanan, mengenal sejarah, daya pikir, dan wawasan luas.

Tri
Bandar Lampung

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 5

Comment here