Oleh: Ummu Zaid
wacana-edukasi.com, OPINI–Indonesia menandatangani Board of Peace (BoP) dengan alasan berkomitmen demi perdamaian Palestina. Namun sungguh janggal, karena organisasi yang katanya demi perdamaian itu diprakarsai oleh Trump yang jejak rekamnya selama ini merupakan supporter Israel yang telah melakukan genosida terhadap Palestina, terlibat pula aktor antagonis utama di dalamnya, yaitu Israel. Lebih aneh lagi, tidak ada pihak dari Palestina yang dilibatkan. Dari kenyataan tersebut, seharusnya pihak Indonesia patut curiga terhadap organisasi ini dan melakukan pertimbangan yang lebih jernih sebelum memutuskan untuk bergabung.
Solusi perdamaian yang ditawarkan oleh penjajah layak dicurigai dan dianggap lelucon. Sangat tidak masuk akal, terlebih setelah pertemuan di Davos, Swiss, tempat acara penandatanganan BoP tanggal 22 Januari 2026, justru Israel kembali menyerang Palestina dan terdapat 31 warga wafat dalam serangan tersebut, termasuk 6 korban anak-anak. Pengeboman ini terjadi pada Sabtu (31/1/2026) di kawasan pengungsian Gaza. (detik.com 1/2/2026). Miris, peristiwa ini terjadi selang waktu tidak sampai dua minggu paska penyelenggaraan BoP.
Umum diketahui bahwa pihak yang sering disalahkan oleh Israel justru HAMAS yang notabene adalah pejuang asli Tanah Palestina. Israel selalu berdalih bahwa serangannya itu ditujukan kepada HAMAS dan seolah itu menjadi legitimasi atas serangannya tersebut walaupun harus mengenai camp pengungsian warga Palestina, sekolah, rumah sakit bahkan rumah ibadah. Bukankah hal tersebut berjalan sejak lama?
Jadi, sangat tidak wajar jika mengaku peduli kepada Palestina namun seolah lupa terhadap apa yang telah dilakukan oleh Israel dan AS kepada Palestina selama ini.
BoP ini adalah sentuhan akhir dari penjajahan yang dilakukan oleh Israel dan disupport oleh AS. Tujuannya bukan untuk perdamaian Palestina, karena faktanya Palestina tidak dilibatkan sama sekali. BoP adalah kepentingan geopolitik dan ekonomi AS. Trump ingin menguasai Gaza, mengusir penduduknya hingga ke wilayah paling selatan yaitu Rafah, lalu mengklaim akan membangun Gaza Baru yang berisi gedung-gedung pencakar langit, wisata pantai, pelabuhan, bandara dan menara apartemen. (BBC News Indonesia, baca “Seperti apa pembangunan ‘Gaza Baru’ versi AS yang dilengkapi gedung-gedung pencakar langit?” 23/1/2026).
Apakah ini sejalan dengan keinginan pemilik tanah Palestina, yaitu rakyat Palestina? Sedangkan penduduk negeri Syam itu disebutkan oleh Rasulullah sebagai barometer iman di akhir jaman.
Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda,
“Apabila penduduk negeri Syam telah rusak maka sungguh tidak ada kebaikan dalam diri kalian, akan senantiasa ada di antara umatku segolongan yang senantiasa menang, tidak berpengaruh kepadanya kemudhorotan orang yang menghinakannya hingga tegaknya hari kiamat” [HR. Tirmidzi].
Secara jelas Nabi Muhammad menyebutkan hubungan antara penduduk negeri Syam dengan kebaikan umat Islam. Hal ini memberikan isyarat penting bahwa umat islam sedunia akan berada dalam kebaikan selama penduduk Syam berada dalam keadaan baik. Namun jika penduduk Syam sudah rusak maka rusak pula keadaan kaum muslim.
Jika teraruskan definisi pembangunan dan kemajuan menurut kacamata Barat (AS- Trump) yang liberal maka sungguh umat Islam harus waspada, karena standar kemajuan dalam Islam bukan dengan dibangunnya bangunan-bangunan mewah ataupun tempat-tempat yang bisa menghasilkan keuntungan berupa materi yang cenderung menampilkan wajah dunia yang hedon seperti tatanan kemajuan ala Barat. Justru jika penduduk negeri Syam menjadi terbawa arus wahn (cinta dunia) , maka ini menjadi alarm bahwa umat di negeri lainnya lebih buruk lagi karena barometer imannya sudah rusak.
Namun, kaum muslim tidak boleh berkecil hati karena pada faktanya di Palestina walaupun dijajah bertubi-tubi saat ini penduduknya masih sibuk melakukan perlawanan atas penjajahan dan sibuk dengan Al-Quran.
Di Gaza, walaupun dalam gempuran genosida, kegiatan menjaga Al-Quran masih tetap berjalan. Dalam program “Ayyamu Allah” di Al Jazeera Mubasher, jurnalis Mujahid menyoroti kegiatan Dar Al-Itqan dalam menghafal Al-Quran, yang tetap berjalan meski lebih dari 90% masjid di Gaza hancur akibat agresi Israel. Program ini menampilkan pengalaman para siswa yang menjadi simbol ketabahan spiritual di tengah perang. Hal ini dikonfirmasi oleh Sheikh Muhammad Abu Mohsen, Wakil Direktur Dar Al-Itqan, bahwa mereka baru saja mengadakan wisuda bagi 777 hafiz dan hafizah (spiritofaqsa.id 24/1/2026).
Semoga, pihak Indonesia segera mengambil langkah mundur dari BoP agar tidak melukai dan berkhianat kepada perjuangan yang dilakukan oleh rakyat Palestina selama ini.
Palestina tidak butuh BoP ataupun rencana AS. Yang Palestina butuhkan adalah pembebasan dari pendudukan Zionis Israel dan supporter loyalnya yaitu AS. Perdamaian hakiki bagi Palestina hanya akan terwujud jika Zionis bisa terusir dari wilayah Palestina bukan justru membangun real estate-nya Trump yang berkedok New Gaza.
Jangan lupa ambisi Trump sebelum BoP, dia ingin memindahkan seluruh rakyat Palestina ke negara lain demi membuat proyeknya yaitu, Gaza Riviera. Pandangan Trump itu melulu kepada bisnis dan keuntungan bukan kemerdekaan Palestina.
Mengapa sebagian umat Islam masih saja sulit dipaparkan atau diingatkan terkait jahatnya Trump ini? Mengapa sebagian kaum muslimin ini nampak masih saja bisa berprasangka baik kepada kolonial atau penjajahan gaya baru seperti ide Trump ini sementara kepada aktivitas dakwah kepada Islam Kaffah dan penyadaran umat akan pentingnya melawan penjajahan justru dicurigai dan dianggap berbahaya?
Nampaknya sungguh sebagian dari umat Islam sudah terseret dan terbawa arus ide penjajah, dan berpola pikir seperti penjajah, serta membela penjajah. Tak paham mana kawan, dan mana lawan. Padahal jelas tindakan Israel dan AS itu melakukan genosida terhadap umat di Palestina. Apakah hal itu tidak cukup jelas? Ataukah mata mereka sudah buta ataukah mata hati yang buta? Lantas hubungan apa yang layak dijalin dengan penjajah kecuali hubungan perang?
Negeri-negeri muslim tidak boleh bersekutu dengan negara kafir harbi fi’lan yang tengah memerangi muslim Palestina (AS dan Zionis Israel). Satu-satunya jalan untuk menyudahi penjajahan adalah melakukan jihad. Khilafah adalah satu-satunya institusi yang akan mengomando jihad akbar untuk membebaskan Palestina. Inilah yang ditakuti oleh penjajah. Umat Islam harus menjadikan Khilafah sebagai qadhiyah masiriyah (agenda utama) dan segera merealisasikannya. Tak peduli resiko tantangan dan ujian dalam perjuangannya. Hidup mulia atau mati syahid tetap menjadi pilihan hidup terbaik bagi orang yang mengaku muslim.
Views: 0


Comment here