Opini

Beras Mahal Tak Berkualitas

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh Sri Ummu Ahza(Aktivis pemerhati masyarakat dan penggiat literasi AMK 4 Makassar)

wacana-edukasi.com, OPINI– Nenek moyangku seorang pelaut, potongan lagu itu menggambarkan wilayah Indonesia mayoritas dipenuhi dengan kepulauan. Namun di sisi lain Indonesia lebih dominan disebut sebagai negara agraris karena jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian cukup besar. Selain itu, bidang pertanian diketahui sebagai salah satu penopang ekonomi Negara.

Mengapa? Karena makanan pokok masyarakat adalah nasi sehingga permintaan di sektor pangan ini cenderung lebih banyak dan terus menerus. Hanya saja apa yang terjadi ketika sektor bank dunia menyimpulkan beras di Negara agraris ini yang termahal?.

Fluktuasi harga beras dalam negeri

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional mencatat rata-rata harga beras (per kg) harian di pasar modern, beberapa provinsi telah menyentuh angka Rp 13,62 ribu per kg, data per Jumat, 16 Desember 2022. Secara keseluruhan, rata-rata minggu ini naik dibandingkan rata-rata pekan sebelumnya yang tercatat Rp 13,54 ribu per kg.

Harga beras harian di pasar modern Sulawesi Tenggara menjadi yang termahal se-Indonesia dengan harga jual Rp 18.750 per kg. Dibandingkan sebulan lalu, harga beras di provinsi ini tidak mengalami perubahan. Harga jual tertinggi yang pernah dicatat di wilayah ini adalah Rp. 25.100 per kg.

Sementara di pasar modern Sumatera Barat, harga beras dijual seharga Rp 16.850 per kg dan menjadi yang termahal kedua di dalam negeri.

Kemudian di urutan ketiga, harga beras di DI Yogyakarta seharga Rp 15.600 per kg, Banten Rp 15.100 per kg, dan Gorontalo Rp 14.650 per kg.

Sementara itu, terdapat 22 provinsi dengan penjualan harga beras di bawah rata-rata nasional. Tiga provinsi dengan harga jual beras terendah adalah Bali, Jawa Timur dan Sulawesi Barat (katadata.co.id 17/12/22).

Jika ditelusuri harga beras dalam negeri nampak jelas perubahan harga dari beragamnya jenis beras. Penyebab dan akibatnyapun juga beragam hingga untuk menyelesaikannya agar tidak berlarut-larut butuh penelitian mendalam dalam berbagai pihak.

Mahalnya harga beras, Apa kata dunia?

Bank Dunia resmi merilis laporan Indonesia Economic Prospect Edisi Desember 2022. Laporan tersebut sempat menyita perhatian lantaran menyebut harga beras di Indonesia lebih mahal dari sebagian besar negara-negara di Asia Tenggara. Indonesia berada di atas Filipina, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Vietnam.

Laporan Bank Dunia menyebut permasalahan tingginya harga beras di Indonesia disebabkan kebijakan pemerintah sendiri. Menurut laporan Indonesia Economic Prospect Edisi December 2022, ada beberapa sebab harga beras di Indonesia melambung tinggi dibandingkan negara-negara tetangga (tempo.co.id 26/12/22).

Beberapa alasan pernyataan tersebut di antaranya. Pertama, Perlindungan produsen, kebijakan dukungan terhadap produsen dengan menaikkan harga produk pertanian pangan.

Dari total konsumsi dalam rentang 2011–2020, tingkat efektivitas perlindungan ini mencapai 27 persen. Menurut Bank Dunia, kebijakan yang menyebabkan harga beras terjaga relatif tetap tinggi tersebut tidak hanya merugikan konsumen. Kebijakan tersebut juga merugikan petani.

Kedua, Hambatan nontarif, meliputi kebijakan perdagangan berupa persyaratan perizinan impor, pembatasan masuk pelabuhan (port of entry restrictions), dan monopoli impor.

Bank Dunia menemukan bahwa pembatasan impor menjadi salah satu hambatan nontarif yang paling memberatkan.

Ketiga, Biaya produksi tinggi. Kondisi global dan dalam negeri turut memengaruhi tingginya biaya produksi pangan. Di tingkat global, kondisi ekonomi global memburuk dan konflik Rusia-Ukraina berkepanjangan.

Di dalam negeri, biaya produksi pertanian meningkat sebesar 5,7 persen pada Oktober 2022. Peningkatan tebesar terjadi pada bidang transportasi dan komunikasi (14,9 persen), serta pupuk, pestisida, obat-obatan dan pakan (8,4 persen).

Selain itu, rantai pasokan panjang dan biaya distribusi tinggi juga menjadi berkontribusi dalam menaikkkan harga pangan bagi konsumen. Hal ini ditengarai disebabkan oleh struktur geografis Indonesia yang kompleks.

Hal ini membuktikan bahwa perlindungan negara atas bahan pangan rakyat tidak serius, padahal beras adalah bahan makanan pokok rakyat Indonesia. Terjadi kepentingan di pihak tertentu tanpa fokus memperhatikan kebutuhan rakyat per individu.

Semua ini menggambarkan lemahnya mekanisme negara dalam menjaga keamanan pangan dan kemudahan dalam mengakses kebutuhan pokok rakyat.

Menuntaskan problem pangan dunia

Periayahan pada rakyat menjadi tanggungjawab Negara. Ketika belajar dalam sistem islam, yang peduli kepada rakyatnya. Dapat dilihat dalam hadis dari Ibnu umar RA berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.

Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya, seorang istri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tangggung jawab dan tugasnya.

Pencapaian umat Islam dalam industri pangan mendahului dari peradaban Barat. Masyarakat Inggris baru mengembangkan industri tepung pada 1600 M. Sistem pertanian modern merupakan ‘jantung’ kehidupan perekonomian masyarakat Muslim di zaman keemasan. Sejak awal abad ke-9 M, peradaban kota-kota besar Muslim yang tersebar di Timur Dekat, Afrika Utara, dan Spanyol telah ditopang dengan sistem pertanian yang sangat maju, irigasi yang luas, serta pengetahuan pertanian yang tinggi.

Itulah yang membuat dunia Islam di era kekhalifahan memiliki ketahanan pangan yang begitu kuat. Sejarah mencatat bahwa peradaban Muslim telah berhasil melakukan transformasi fundamental di sektor pertanian yang dikenal sebagai Revolusi Hijau Abad Pertengahan atau Revolusi Pertanian Muslim.

Revolusi Hijau yang dirintis umat Islam telah memungkinkan transfer beragam tanaman berikut teknik menanamnya ke berbagai penjuru dunia Islam.

Pada era itu, dunia Islam menguasai beragam komoditas pertanian yang awalnya justru berasal dari peradaban lain. Beberapa komoditas pertanian dan perkebunan penting yang dikuasai umat Islam antara lain gula tebu dan gandum. Sejatinya, gula tebu berasal dari peradaban masyarakat India, sedangkan gandum berasal dari Benua Hitam Afrika.

Dengan globalisasi pertanian yang dirajut peradaban Islam, tanaman yang sangat penting itu dikembangkan masyarakat Muslim. Berkembang pesatnya sektor pertanian yang dibarengi perdagangan serta teknologi telah mendorong munculnya industri pangan.

Wallahua’lam bi shawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 5

Comment here