Opini

Banjir Berulang Melanda, Kenapa?

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Erdiya Indrarini (Pemerhati Kemasyarakatan)

Wacana-edukasi.com — Anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya. Kita mesti tabah menjalani. Hanya cambuk kecil agar kita sadar. Adalah Dia di atas segalanya. Itulah sepotong lirik dari lagu Ebiet G. Ade. Mengingatkan supaya kita berbenah, agar Allah melimpahkan anugerah, bukan bencana yang membuat susah.

Awal tahun Indonesia disambut dengan bencana yang menyerang beberapa kota di seluruh Indonesia. Kini, banjir menyerang kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (6/2/2021). Basuki Hadimuljono selaku Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengatakan, bahwa banjir di Kota Semarang terjadi akibat luapan Kali Beringin Mangkang dan Kali Plumbon Kaligawe, adalah siklus hujan lebat 50 tahunan. Untuk itu, Menteri Basuki mengatakan akan memaksimalkan seluruh pompa air yang dikelola Kementerian PUPR (Sidonews.com, 7/2/2021).

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo pun melakukan inspeksi ke Rumah Pompa Mberok yang menjadi tumpuan penanganan banjir di Kota Semarang. Ternyata, petugas hanya mengoperasikan satu dari tiga pompa yang terpasang di rumah pompa kawasan Kota Lama tersebut. Setelah diusut, dua dari tiga pompa itu tidak dioperasikan karena masih dalam ranah Kementrian PUPR dan belum diserahkan ke Pemkot Semarang. Terang Yoyok Wiratmoko selaku Kepala UPTD Pengelolaan Pompa Banjir Wilayah Tengah Dua Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang (cnnindonesia.com, 7/2/2021).

Berbeda yang diungkapkan Ahli hidrologi Universitas Gajah Mada (UGM), Pramono Hadi. Ia mengatakan bahwa banjir di Semarang memang tak bisa dihindari karena penurunan muka tanah. Bahkan empat hari dalam sepekan, Semarang utara merupakan pelanggan banjir. Sehingga dalam kondisi hujan saat ini, mustahil air dapat mengalir dengan lancar. Oleh karena itu, diperlukan revisi tata ruang, khususnya terkait air. “Sistem polder dan tanggul sungai juga menjadi solusi, terangnya (kompas.com, 7/2/2021).

Selain itu, banjir pun menyerang di Tempurejo, Puger, dan Bangsalsari, Jember (17/1/2021). Dalam tinjauannya, Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Hari Putri Lestari memastikan agar dapur umum untuk korban banjir bisa berjalan normal, mengingat APBD Jember 2021 masih bermasalah.

Ia menerangkan, bahwa permasalahan banjir tahunan di Tempurejo yang melanda 3 desa setempat sudah berlangsung 10 tahun lebih. Selain itu, sungai cuma dinormalisasi atau dikeruk dan hanya bersifat sementara.
“Akhirnya banjir terulang kembali, berarti ada masalah yang belum tuntas,” terangnya (lenteratuday.com, 17/1/2021).

Sabar dan Tawakal Menghadapi Bencana

Kita meyakini bahwa musibah adalah suatu ketetapan Allah yang harus disikapi dengan sabar dan tawakal. Dengan kejadian ini kita bisa mengambil hikmah bahwa sehebat apa pun manusia, tetaplah makhluk yang lemah, dan Allahlah yang berkuasa atas segalanya. Sehingga tak patut kita berlaku sombong dan seenaknya terhadap aturan Allah. Apalagi menggantinya dengan hukum buatan manusia.

Walaupun musibah banjir sudah menjadi ketetapan Allah, sebagai makhluk yang dibekali akal, seyogianya kita berpikir dan introspeksi diri. Mengapa sudah puluhan tahun lamanya, musibah yang sama terus berulang terjadi. Sehingga mengakibatkan kesusahan dan kesulitan yang berkepanjangan. Kita perhatikan firman Allah yang artinya:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum :41)

Abainya Negara dalam Keselamatan Warga

Banjir Semarang dan Jember tidak disebabkan masalah administrasi saja. Akan tetapi, problem mendasar karena orientasi pembangunan yang tidak memprioritaskan keselamatan rakyat maupun kelestarian lingkungan. Malah lebih mengutamakan keuntungan materi. Memang, intensitas hujan bisa menimbulkan banjir, tetapi menyalahkan hujan tidaklah solutif. Karena, daya dukung lingkungan yang tidak baik seperti pembangunan yang membabi buta atau pembukaan lahan yang eksploitatif adalah faktor utama terjadinya bencana banjir. Apalagi negara melakukan pembiaran terhadap tindakan eksploitatif tersebut.

Puluhan tahun berlangsung tanpa dibangun bendungan baru. Juga tak ada perbaikan atas muka tanah seiring beban kota yang semakin besar, membuktikan pemerintah abai terhadap keselamatan publik. Pun tidak peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Perbedaan Mendasar Sistem Kapitalis dengan Sistem Islam

Begitulah potret tata kelola negara yang menerapkan sistem kapitalisme. Sebaik apa pun upaya yang ditawarkan, tidak akan dieksekusi dengan optimal oleh negara. Terlebih jika upaya tersebut menghalangi bisnis para pemodal. Karena dalam menentukan kebijakan, pemerintah akan melihat seberapa besar keuntungan materi yang didapat dari investor. Dan akan lebih mengurus kepentingan para pemilik modal saja. Tidak lagi melihat apakah membahayakan rakyat ataukah tidak.

Berbicara tentang sistem bernegara, sistem Islamlah yang mampu mewujudkan perlindungan terbaik bagi rakyatnya. Terbukti pernah berjaya hingga 1300 tahun lamanya menguasai dua pertiga dunia. Bagaimana tidak, Islam tidak cuma agama, tetapi juga sistem/ideologi yang mempunyai aturan menyeluruh dan sempurna di setiap aspek kehidupan.

Dalam Islam, setiap menetapkan kebijakan, prioritas utama adalah penjagaan jiwa manusia. Karena sejatinya itulah tujuan dari diturunkan-Nya syariat. Sehingga, tugas pemerintah dalam Islam adalah mengurus segala keperluan rakyat. Demikianlah perbedaan mendasar pemimpin negara yang mengadopsi sistem kapitalis dengan pemimpin yang menerapkan sistem Islam.

Tindakan Bencana dalam Islam

Pemimpin dalam Islam tidak akan berpikir lama untuk mengupayakan tindakan bencana. Apalagi sistem keuangan dalam negara Islam yang berbasis baitulmal, membuat negara mempunyai keuangan yang kukuh dan stabil. Salah satunya dari pengolahan secara mandiri sumber daya alam yang berlimpah, baik di daratan, lautan, maupun yang terkandung dalam bumi. Jadi, kekayaan alam tidak diprivatisasi oleh swasta, apalagi asing/aseng. Sehingga, negara selalu siap dalam menangani bencana.

Dalam menangani banjir yang disebabkan oleh permukaan tanah yang tidak mampu menampung curahan air akibat hujan, rob, longsor, dan sebagainya, negara dengan sistem Islam akan membangun bendungan-bendungan yang mampu menampung curahan air. Negara akan melarang masyarakat membangun pemukiman di wilayah tersebut.

Pemerintah juga membangun kanal baru. Agar air yang mengalir di daerah itu bisa dialihkan alirannya. Atau membuat resapan, agar air bisa diserap oleh tanah secara maksimal. Pemerintah pun tak segan mengevakuasi warga dari daerah rawan dengan memberikan kompensasi. Secara berkala mengeruk lumpur di sungai atau daerah aliran air untuk mencegah pendangkalan. Selanjutnya, pemerintah melakukan penjagaan yang ketat untuk kebersihan sungai, kanal, atau danau dengan memberikan sangsi yang berat bagi yang mengotori atau mencemarinya.

Bicara tentang peradaban, saat ini kita masih bisa menyaksikan bendungan-bendungan yang dibangun oleh pemerintahan Islam kala itu. Di antaranya bendungan Mizan di Irak selatan, bendungan Kanal Darian, maupun bendungan Shadravan, juga bendungan di sungai Turia Spanyol yang kehebatan kontruksinya masih bisa bertahan hingga sekarang.

Demikianlah kehebatan sistem Islam dalam mengelola negara seperti dalam menangani banjir. Hal ini tidak mungkin direalisasikan oleh rezim saat ini.

Wallahua’lam

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

blank

Hits: 14

Comment here