Opini

Abad Khilafah Dinanti Atasi Pandemi

blank
Bagikan di media sosialmu

Oleh: Nadia Fransiska Lutfiani S.P. (Aktivis Muslimah, Pegiat Literasi dan Media)

Wacana-edukasi.com — Perjalanan pandemi semakin rumit, mencekik keadaan seluruh kehidupan. Menghantam semua bidang, ekonomi sulit, pelayanan publik berbelit, kebutuhan semakin membuat terimpit.

Sudah sebelas bulan pandemi bukan melandai justru meningkat dan tidak beraturan, menempatkan sikap abai memang tidak dibenarkan, tetapi keadaan seolah-olah menjadikan sikap itu tertunaikan. Putus asa juga bukan pilihan, bertahan menjadi pilihan meski di tengah keterbatasan.

Penyelesaian telah tertuang dalam kebijakan, bahkan PSSB akan kembali diberlakukan, tetapi mampukah angka positif dapat ditekan?Per tanggal 7 januari 2021, angka terkonfirmasi naik tajam bahkan RS-nakes diambnag collaps, kasus terpapar berbanding lurus. Sehingga perlu perlindungan segera terkait dengan fasilitas kesehatan ujar Doni Monardo Ketua Satgas Penanganan Covid19 dalam konferensi pers BNPB (detikhelath, 7/ 01/2021).

Laporan tahunan Dewan Pengawasan Kesiapsagaan Global, pada bulan september 2019 telah merancang kesiapan hanya dalam hitungan jarak beberapa bulan sampai akhirnya wabah covid meletus, ternyata dunia tidak siap. Bersiaplah covid-19 tidak menjadi pandemi trakhir bagi dunia. Atas hal ini Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, ia mengatakan dunia tidak bisa terus bersikap pengabaian dan berputar pada siklus kepanikan saja, karena pandemi covid-19 bukanlah akhir dari ancaman wabah global (inews.id, 27/12/2020).

Berharap pada Sistem Kapitalis atau Sosialis, Akankah Berbuah Manis?

Sejak awal kemunculan virus di akhir tahun 2019 hingga menghantam telak krisis ekonomi dan kesehatan global serta sosial telah mencekik kehidupan. Kebijakan yang diharapkan mampu mengatur dan menyelesaikan masalah justru menambah beban masalah. Sejauh perjalanan wabah yang sudah mulai melahap habis segala persendian kehidupan, justru membuka tabir keruskan kehidupan yang sudah tidak layak lagi bertumpu pada sistem global kapitalis.

Penanganan wabah di seluruh dunia tersekat negara, koordinasi tidak sinkron, lambannya pencegahan dini telah meluaskan kesakitan dan menghancurkan banyak harap terutama rakyat atau manusia. Berkaca pada apa yang dilakukan negara adidaya kapitalis global, Amerika Serikat justru ekonominya collaps dihantam pandemi yang semakin menggila.

Negara pengusung kapitalis ini tidak mampu bertahan dengan idealismenya. Asas negara yang diusungnya memandulkan penyelesaian masalah. Selain demi mempertahankan keuntungan perputaran ekonomi dunia, terbukti justru fokus berlomba pengadaan vaksin dengan negara adidaya lainnya sebagai jalan yang ditempuhnya demi mencapai pangsa pasar yang diharapkan sebagai penanganan jurus terakhir.

Atau negara China, sejak pertama wabah terdeteksi di sana. Negara dengan sistem komunisnya lahir dari asas sosialis yang menjadikan segala terpusat pada penguasa, bahkan diibaratkan dengan Tuhan, segalanya tunduk megikuti penguasa. Justru hasilnya pandemi bukan berhenti malah hadir babak baru lagi, tetapi berdalih gelombang wabah kembali hadir karna impor negara berkembang yaitu Indonesia.

Satu negara dengan negara lain saling mempertahankan negaranya, nasionalisme telah mamatikan koordinasi penanganan pandemi yang sejatinya membutuhkan terpusat.

Sejalan dengan yang dikatakan ahli kesehatan dalam British Medical Journal dunia saat ini membutuhkan pembasmian wabah, tetapi ini jelas bertentangan dan menantang sistem kepemimpinan seluruh dunia yang sudah berjalan.

Karena penyelesaian wabah ini buka hanya membutuhkan penyelesaian teknis atau testing dan penelusuran jejak atau bahkan vaksinasi penekanan penyebaran dengan menguatkan imunitas. Mereka saling berupaya untuk mencapai keadaan aman yang diinginkan bagi negaranya saja.

Kapitalisme maupun sosialisme membakar harapan umat seluruh dunia dalam bertahan, krisis menjadi lebih kritis mencekik dan menghantam telak pengaturan konsep kehidupan yang terbangun atasnya.

Sistem Pemerintahan Islam Solusi Revolusioner Atasi Masalah

Islam diturunkan sebagai penyempurna agama sebelumnya, risalahnya hadir sepaket aturan bagi manusia seluruh dunia. Islam menjadikan agama adalah pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara, aturannya melingkupi semua bidang.

Paradigma yang dibangun demi mencapai rida-Nya, karena dalam Islam Tuhan adalah pencipta sekaligus pengatur yang mengerti betul tabiat manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Islam juga mengatur dalam hal pemerintahan. Sistem pemerintahan dalam Islam atau khilafah adalah satu kepemimpinan global untuk seluruh dunia. Keberadaan negara dalam Islam adalah sebagai langkah praktis menerapkan aturan atau hukum-hukum syara’.

Sistem Islam akan memberlakukan pengaturan berdasarkan hukum syara’, menjadikan akidah Islam sebagai dasar negara sekaligus asas undang-undang syar’i.

Dalam buku “Nizham Islam” Karya Syekh Taqiyuddin, bahwa sistem pemerintahan Islam bersifat sentralisasi, sedangkan administrasinya bersifat desentralisasi. Urusan administrasi negara dan pelayanan terhadap rakyat diatur dengan sistem cepat dalam pelaksanaan tugas dan profesional.

Lingkup kehidupan bernegara, kritik terhadap pemerintah, merupakan hak kaum muslim, hukumnya fardhu kifayah sedangkan warga nonmuslim juga diberi hak mengadukan kesewenangan/penyimpangan pemerintahan atas dirinya jika dijumpai.

Untuk pelayanan kesehatan diberikan cuma-cuma kepada seluruh rakyat. Sehingga, dalam penangan atau menyelesaikan urusan rakyat tidak pernah setengah, secar total atas satu kepemimpinan negara Islam (khilafah) dengan melakukan lockdown sejak awal, memenuhi dukungan riil dari sektor ekonomi yang anggarannya berbasis baitulmal, pengadaan riset pengobatan, pemenuhan logistik serta hajat publik tanpa terkecuali.

Itu semua tidak mampu terlaksana kecuali dengan satu kepemipinan global, bukan bersekat. Karena konsep politik dalam Islam adalah menampilkan Islam dalam sosok negara yang kuat, penerapan hukum-hukumnya secara baik sesuai syariat. Kehadiran sistem Islam dalam kehidupan mutlak menjadi kebutuhan mendesak bangsa bahkan dunia sebagai obat penyembuh persoalan yang menyakitkan. Hasilnya, di bawah naungan Khilafah solusi tuntas pembasmian pandemi menuju peradaban lebih baik, biidznillah.

Wallahua’lam bishshawab

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 2

Comment here