Oleh : Parmy
wacana-edukasi.com, OPINI–Dilansir dari CNN Indonesia (05/10/2026) Menteri keamanan Nasional Israel Itamar Ben – Gvir mengklaim bahwa seluruh tiga wilayah administratif di tepi barat adalah “Milik Israel”. Pernyataan tersebut bertentangan dengan pengaturan yang ditetapkan dalam kesepakatan Oslo antara Israel dan organisasi pembebasan Palestina (PLO).
Berdasarkan kesepakatan Oslo II 1992, tepi barat dibagi menjadi area A, B dan C , area A berada di bawah kendali penuh Palestina, sedangkan area B berada di bawah kendali sipil Palestina dan kendali keamanan Israel. Area C , yang mencakup 60 persen wilayah tepi barat, berada di bawah kendali penuh Israel. Tetapi Ben – Gvir menyatakan area A, B, dan C adalah milik zionis Israel. “Tidak ada perbedaan antara area A, B,dan C. Seluruh tanah itu milik kami. Inilah negara kami” kata Ben – Gvir kepada stasiun televisi sayap kanan Israel channel 14.
Keinginan zionis Israel yang sebenarnya adalah menguasai seluruh wilayah Palestina termasuk tepi barat dan Gaza, demi mewujudkan Israel Raya. Ben – Gvir juga mengancam akan membubarkan otoritas Palestina serta mendorong pemindahan warga Palestina dari tepi barat dan jalur Gaza, jika dirinya menjadi menteri pertahanan.
Fakta di tepi barat hari ini adalah apartheid yang dilegalkan. Satu wilayah dua sistem hukum. Pemukiman Israel mendapat perlindungan penuh negara dan militer, sementara warga Palestina hidup di bawah pendudukan militer, pos pemeriksaan dan penggusuran paksa. Negara mana yang mengklaim wilayah orang lain sebagai miliknya lalu masih berbicara tentang perdamaian dua negara.
Perluasan kontrol Israel atas wilayah tepi barat melalui ekspansi permukiman fragmentasi teritorial , dan dominasi keamanan secara de facto, menunjukkan bahwa solusi dua negara kini telah kehilangan relevansinya di lapangan. Realitas fragmentasi geografis ini menjadikan pembentukan negara Palestina yang berdaulat dan berkesinambungan secara teritorial tampak sebagai ilusi belakang, untuk membaca analisis lengkap mengenai isu ini zionis menciptakan bencana kelaparan hingga anak-anak Gaza memetik krokot untuk bertahan hidup. Penindasan dan kesengsaraan yang dialami oleh rakyat Palestina, adalah bukti kebiadaban zionis.
Genosida, penghancuran Gaza. Perampasan pemukiman Palestina di tepi barat, pembakaran puluhan masjid di tepi barat, pendudukan komplek Al Aqsa adalah kejahatan besar zionis Israel kepada Islam dan umat Islam.
Solusi dua negara yang digembar-gemborkan AS , negara sekutu dan para penguasa negeri muslim hanyalah kebohongan dan ilusi, yang dijual untuk meredam amarah umat sambil membiarkan penjajahan terus bercokol.
Bagaimana mungkin dikatakan solusi, jika satu pihak terus membunuh, merampas tanah dan mengepung saudara kita, sementara pihak lain hanya diminta berdamai dan mengakui sang penjajah.
Meyakinkan umat Islam dan masyarakat internasional, bahwa zionis Israel benar-benar akan merampas seluruh wilayah Palestina dan menyempurnakan genosida dan pengusiran. Sejarah telah membuktikan, puluhan tahun perundingan tidak pernah melahirkan kemerdekaan, hanya melahirkan peta yang semakin menyempit, darah yang semakin tumpah dan pengkhianatan yang dibungkus diplomasi.
Kejahatan zionis Israel tidak bisa ditolerir, tidak akan selesai dengan solusi dua negara atau jalur diplomasi, bahkan wajib diperangi dengan menerapkan syariat jihad fisabilillah. Persatuan umat dan kekuatan hakiki yang mencabut penjajah hingga ke akarnya.
Pemimpin negara Arab patuh bertemu dengan Netanyahu , ini menunjukkan pengkhianatan besar terhadap perjuangan Palestina. Karena darah syuhada yang mengalir di Gaza dan semua korban tewas dari warga sipil di Gaza seolah tidak ada harganya di mata mereka.
Sejarah akan mencatat siapa yang berdiri bersama Palestina dan siapa yang memilih berkhianat demi kepentingan kekuasaan, harta dan restu dari Amerika serta Israel.
Jihad melawan zionis Israel hanya bisa sempurna jika ada persatuan umat Islam dan jihad dengan komando khilafah. Karena tanpa persatuan, umat hanya bergerak sendiri-sendiri, mudah dipecah belah dan dikalahkan. Tanpa khilafah, akan sangat sulit menyatukan tentara-tentara kaum muslimin dari berbagai negeri.
Perjuangan menegakkan khilafah menjadi sangat penting untuk menggerakkan jihad fisabilillah. Rasulullah telah mengajarkan, kaum muslimin itu seperti satu tubuh, jika satu anggota sakit, seluruh tubuh merasakannya.
Sudah saatnya umat Islam dan dunia yang masih punya nurani berhenti mempercayai ilusi dua negara. Selisih dua negara sudah mati, yang ada adalah satu kenyataan pendudukan harus diakhiri. Tepi barat adalah tanah Palestina, milik rakyat Palestina dan klaim Israel atasnya adalah bukti final bahwa negoisasi tanpa tekanan dan tanpa perlawanan hanya akan melahirkan penjajahan yang lebih kejam.
Kemerdekaan Palestina yang hakiki tidak akan terwujud tanpa bersatunya kembali umat Islam di bawah satu kepemimpinan islam. Yaitu negara khilafah.
Khilafah adalah junnah dan pelaksana hukum-hukum syariat secara kaffah. Sehingga dengannya, jihad dapat dikerahkan dan diarahkan secara terorganisir di bawah komando seorang Khalifah. Maka menegakkan khilafah bukan hanya tujuan politik, tetapi pintu untuk menghidupkan kembali Izzah dan kemuliaan Islam melalui jihad fisabilillah. Sudah saatnya umat semakin sadar bahwa khilafah adalah kebutuhan yang sangat mendesak, demi persatuan, perdamaian dan kesejahteraan seluruh umat di muka bumi.
Views: 1


Comment here