Oleh Tati Pranita
Wacana-edukasi.com, OPINI--Ada sesuatu yang keliru dengan wajah dunia hari ini. Peradaban yang katanya maju justru melahirkan kecemasan massal. Negara-negara saling mengancam, perang menjadi tontonan rutin di layar kaca, alam semakin rusak, dan manusia kehilangan rasa aman bahkan di tanah kelahirannya sendiri. Kemajuan teknologi tidak berbanding lurus dengan kemajuan nurani. Di balik semua itu, ada satu benang merah yang sulit disangkal. Dunia dikelola oleh kepemimpinan global yang kering nilai, miskin empati, dan sarat kepentingan.
Dominasi yang Melukai Kemanusiaan
Selama puluhan tahun, arah dunia berada dalam genggaman Amerika Serikat dengan ideologi kapitalisme sekulernya. Sistem ini tidak sekadar mengatur pasar dan transaksi ekonomi, tetapi memaksakan cara pandang hidup kepada bangssa-bangsa lain. Standar benar dan salah ditentukan oleh kepentingan, bukan oleh nilai moral yang universal. Dampaknya terasa nyata terutama di negeri-negeri muslim yang kaya alamnya. Umat Islam hidup dalam tekanan struktural, dijauhkan dari ajaran agamanya, dilemahkan secara politik, dimiskinkan secara ekonomi, dan didorong untuk menerima sekularisme sebagai keniscayaan. Penjajahan hari ini tidak selalu berwujud senjata, tetapi ia hadir lebih halus, namun jauh lebih mengikat melalui regulasi global, jeratan utang, intervensi kebijakan serta penetrasi budaya dan gaya hidup. Banyak negeri muslim secara formal merdeka, namun secara substansi kehilangan kedaulatan dalam menentukan arah hidupnya sendiri.
Di saat yang sama, bumi menanggung luka yang dalam. Krisis iklim, kerusakan hutan, pencemaran laut, dan berbagai bencana ekologis lain bukanlah musibah alam semata, melainkan akibat langsung dari kerakusan sistem global yang menuhankan keuntungan. Kapitalisme menjadikan alam sebagai objek eksploitasi tanpa batas, seolah manusia adalah pemilik mutlak bumi, bukan penjaga yang diberi amanah. Ketika keuntungan menjadi tujuan utama, kelestarian dan keselamatan generasi mendatang dikorbankan tanpa rasa bersalah.
Lebih jauh, Amerika Serikat semakin terang menunjukkan wajah aslinya. Ancaman militer, sanksi ekonomi, dan intervensi politik dilakukan terhadap negara-negara yang berani berbeda sikap, termasuk Venezuela. Semua dibungkus dengan jargon demokrasi, stabilitas dan hak asasi manusia, namun praktiknya justru memperlihatkan standar ganda dan arogansi kekuasaan. Hukum Internasional hanya ditegakkan ketika menguntungkan pihak kuat, dan diabaikan ketika menjadi penghalang kepentingan mereka.
Ketika Ideologi Menjadi Sumber Kerusakan
Masalah utama dunia bukan semata pada siapa yang berkuasa, tetapi pada ideologi yang melandasi kekuasaan tersebut. Kapitalisme sekuler memisahkan agama dari kehidupan, lalu menyerahkan pengaturan urusan manusia sepenuhnya pada logika materi. Akibatnya, sendi-sendi kehidupan umat Islam mengalami kerusakan menyeluruh. Akidah dilemahkan, akhlak direlatifkan, muamalah diukur dengan untung-rugi, dan pendidikan diarahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar. nilai kebenaran menjadi relatif dan tunduk pada kepentingan.
Dalam politik global, ideologi ini melahirkan hukum rimba versi modern. Negara kuat bebas melanggar aturan, sementara negara lemah dipaksa tunduk. Amerika Serikat menggunakan berbagai instrumen dari aneksasi terselubung hingga tekanan ekonomi demi menguasai sumber daya alam bangsa lain. demi mempertahankan dominasinya, keadilan internasional kehilangan makna dan wibawanya karena dikendalikan oleh kepentingan, bukan oleh nilai kebenaran dan keadilan.
Kepemimpinan Islam sebagai Jalan Keluar
Di tengah krisis global ini, umat Islam sejatinya memiliki harta yang sangat berharga, yaitu mabda Islam. Sebuah ideologi yang lahir dari wahyu dan dirancang untuk mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh. Islam bukan hanya agama ritual yang berhenti di masjid dan ruang privat, tetapi sistem kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan dirinya sendiri, dan manusia dengan yang lainnya. Ketika Islam diterapkan secara Kaffah, ia hadir sebagai sistem yang menempatkan keadilan sebagai poros utama dan rahmat sebagai tujuan akhir.
Kesadaran akan mabda Islam inilah yang harus dibangkitkan kembali ditengah umat. Dunia membutuhkan kepemimpinan yang tidak tunduk pada korporasi, tidak menjadikan senjata sebagai bahasa utama diplomasi, dan tidak mengorbankan kemanusiaan demi kepentingan segelintir elit. Kepemimpinan Islam hadir sebagai antitesis dari hegemoni Amerika Serikat dan sistem kapitalisme global yang menindas.
Khilafah Islam bukan sekadar institusi politik, melainkan kepemimpinan peradaban. Sejarah mencatat bagaimana ia melindungi umat manusia sekaligus menjamin keamanan, keadilan, dan kebebasan beragama.
Dibawah kepemimpinan Islam, kezaliman dibatasi oleh hukum syariat, kemaksiatan dicegah dengan sistem yang adil, dan kerusakan alam dikendalikan karena alam dipandang sebagai amanah, bukan komoditas. Inilah kepemimpinan yang tidak hanya adil, tetapi juga membawa rahmat bagi seluruh manusia.
Dunia tidak kekurangan pemimpin, tetapi kekurangan kepemimpinan yang berlandaskan nilai. Selama arah dunia masih ditentukan oleh kapitalisme sekuler yang rakus dan hegemoni, penderitaan akan terus berulang dengan wajah yang berbeda. Sudah saatnya umat Islam berhenti menjadi penonton sejarah, bangkit dengan mabda Islam, dan memperjuangkan kepemimpinan global yang benar-benar membawa rahmat bagi seluruh alam semesta.
Wallahu alam bisshawab.
Views: 4


Comment here