Wacana-edukasi.com, OPINI–Dalam perjalanan hidup, ada masa ketika doa kita terasa berat, ikhtiar seakan tak berbuah, dan hati dipenuhi luka. Rasulullah Saw., pun pernah berada di titik itu. Tahun itu dikenal sebagai Amul Ḥuzn, yakni tahun kesedihan. Orang yang paling beliau cintai, Khadijah RA wafat. Pelindung beliau, Abu Thalib juga pergi. Dakwah ditolak, bahkan Rasulullah dilukai secara fisik dan batin ketika di Thaif.
Rajab yang mulia kembali hadir menyapa umat yang masih banyak maksiat, rajab menyapa negri kita tercinta, akankah kita siap untuk sempurna? Momen penting dalam Rajab adalah peristiwa ketika Rasulullah Saw., menerima perintah shalat lima waktu yang menjadi kewajiban bagi seluruh umat Muslim. Peristiwa penting itu terjadi tidak begitu saja tanpa sebab dan tujuan. Kala itu, Rasulullah Saw., di timpa kesedihan yang bertubi-tubi. Mulai dari kehilangan istri tercinta, hingga penolakan dari bangsa Tha’if terhadap Rasulullah Saw.
Rajab tidak hanya sebatas momentum perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Rajab juga diwarnai dengan peristiwa bersejarah yang amat sangat penting bagi umat Islam. Runtuhnya kepemimpinan Khilafah dari tangan Bani Utsmaniyah yang berkuasa belasan abad lamanya.
Tepatnya tanggal 27 Rajab 1342, bertepatan dengan 3 Maret 1924 M. Runtuhnya kepemimpinan Islam sudah di peringatkan oleh Rasulullah Saw., dalam sabdanya yang menjelaskan bahwa ajaran Islam akan lepas satu per satu. Dimulai dari hukum atau Syariat Islam, hingga Ditinggalkannya salat (Hr.Ahmad).
Setelah kepemimpinan Islam sirna, manusia mulai memasuki kehidupan baru dalam asuhan komunis kapitalis yang akhirnya meninggalkan IsIam. Ditinggalkannya Syariat IsIam tentu akan membawa banyak kemudharatan dalam kehidupan. Mulai dari berbagai bencana, perpolitikan, ekonomi, hingga bencana sosial kemanusiaan.
Saat ini dunia menderita di bawah kepemimpinan global Barat yang terus mencekam dunia. Lihat saja bagaimana kondisi Muslim di Palestina, tempat Mi’raj-nya Rasulullah Saw., yang kini di kuasai oleh Zionis Yahudi, negri Muslim terpecah belah, kedzaliman penguasa kafir pada Muslim di Rohingya, Uighur, India, dan Rusia.
Rajab bukan sekadar rutinitas yang setiap tahun dilaksanakan, tetapi Rajab harusnya menjadi momen untuk kita berbenah diri mencari ridho Ilahi. Campakkan hukum buatan manusia sekularisme kapitalisme. Dengan mengagungkan kembali Syariat Islam.
Islam agama yang paling mulia yang di turunkan oleh Allah kepada Rasulullah Saw., dan seluruh umat-Nya. Maka, pasti akan mampu mengembalikan kemuliaan Islam. Menegakkan Khilafah Islam akan membawa kemulian Islam dan kemuliaan bagi umat Islam. Kelompok Islam ideologis yang terus menerus berjuang mengajak umat agar kembali kepada hukum Allah, bukan hukum buatan manusia.
Menegakan Khilafah adalah perjuangan yang paling agung, paling mulia, Ma la yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajib. Maka, mari jadikan moment Rajab ini sebagai jembatan untuk kita kembali berhukum kepada hukum Allah Swt.
Anita Octavia Mayasari
Aktivis Muslimah
Views: 18


Comment here