Opini

Implementasi Isra Mikraj

Bagikan di media sosialmu

Oleh: Nurhy Niha

Wacana-edukasi.com, OPINI--Peristiwa Isra Mi’raj biasanya hanya menjadi peringatan tahunan saja, setelah diperingati kemudian dilupakan seolah tidak terjadi apa-apa. Isra Mi’raj tidak boleh dianggap sebagai dongeng perjalanan Nabi ke langit saja. Kejadian di bulan Rajab ini sebenarnya pengingat bagi kita agar mengikuti seluruh aturan Allah, bukan hanya soal shalat lima waktu saja. Anehnya, di tengah suasana Rajab ini, banyak bermunculan program pendidikan yang digadang-gadang akan membuat anak-anak melesat hebat. Sesuatu yang sulit dicerna karena pada dasarnya kita masih menggunakan aturan sekuler yang mengabaikan keberadaan agama.

Dilansir dari laman detik.com (08/01/2026), Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam kunjungannya ke Garut menitipkan masa depan pendidikan agar mampu menghasilkan generasi yang serba bisa, serba tahu, dan berakhlak mulia. Sebuah pesan yang terdengar bagus di telinga, tetapi jika dipikir cermat, pesan ini bagaikan ilusi semata. Harapan akan tumbuhnya akhlak mulia sulit terwujud jika bibitnya disemai di atas tanah sekularisme-demokrasi yang memisahkan agama dari aturan kehidupan.

Lemahnya perlindungan negara dalam kehidupan kapitalisme ini bukan sekadar isu belaka. Kita bisa melihat bagaimana publik harus mendesak intervensi Pemprov Jabar dan Pemkab Garut hanya untuk melindungi hak pendidikan siswa SMA YBHM (Radar Garut, 13/01/2026). Masalah keamanan sekolah yang tak kunjung usai ini membuktikan bahwa tanpa perubahan paradigma dari sistem sekuler menuju Islam kaffah, gambaran masa depan itu hanya akan menjadi beban tanpa solusi hakiki.

Akar Masalah

Selama sistem pendidikan masih bersifat sekuler, sekolah hanya akan melahirkan generasi yang pintar secara akademik namun rapuh secara moral. Buruknya potret pendidikan hari ini kian nyata dengan maraknya komersialisasi ruang kelas, di mana kurikulum yang terus berganti hanya berfokus mencetak “Mesin” industri demi kepentingan pasar kapitalisme. Sekolah akhirnya tak lebih dari pabrik ijazah yang minus nilai spiritual.

Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas teknologi namun rapuh secara mental serta terjebak dalam lingkaran perundungan (bullying). Kondisi ini terjadi karena hilangnya tuntunan wahyu dalam sistem pengajaran. Implementasi Isra Mi’raj yang sebenarnya adalah menjadikan Akidah Islam sebagai landasan utama kurikulum, bukan sekadar menempatkan agama sebagai pelajaran tambahan dengan porsi yang sangat minim.

Dalam pandangan Islam, sains dan teknologi harus dipelajari sebagai sarana mengagumi ciptaan Allah, bukan sekadar mengejar nilai atau modal kerja. Sejarah mencatat Isra Mi’raj adalah pintu masuk momen politik Baiat Aqabah II. Ini menegaskan bahwa Isra Mi’raj adalah jalan perubahan ideologis, di mana shalat menjadi simbol bagi penegakan hukum Allah secara menyeluruh dalam kehidupan.

Pasca Runtuhnya Perisai Umat

Dunia telah merasakan gelapnya hidup selama 105 tahun tanpa naungan Khilafah Islamiyah. Sejak perisai itu runtuh, syariat Islam tidak lagi diterapkan secara kaffah di seluruh penjuru dunia. Hasilnya muncul berbagai bencana politik, ekonomi struktural, hingga kerusakan sosial dan alam yang tiada henti. Penetapan sistem sekuler-demokrasi secara global sebenarnya adalah bentuk pembangkangan nyata terhadap hukum Allah. Generasi cendikia tidak akan lahir dari sistem yang menjauhkan manusia dari Penciptanya.

Membumikan Syariat

Kita membutuhkan implementasi Islam dalam naungan Khilafah yang menjadikan akidah sebagai landasannya. Inilah saatnya kita mengganti hukum sekuler kapitalisme yang telah terbukti gagal dan membawa kerusakan sistematik. Membumikan hukum Allah berarti menegakkan kembali syariat untuk mengakhiri bencana global. Aturan Islam harus diterapkan secara penuh, tidak setengah-setengah, agar mampu menjadi berkah serta cahaya bagi seluruh alam.

Kekuatan Nyata dan Persatuan Umat

Penjajahan tidak akan selesai di meja diplomasi yang mandul. Palestina, tempat perjalanan Isra Mi’raj Rasulullah SAW, kini masih terbelenggu oleh penjajahan entitas Yahudi. Kezaliman terhadap minoritas Muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, hingga Filipina Selatan harus segera dihentikan dengan kekuatan yang konkret. Dibutuhkan kekuatan nyata dari tentara Muslim untuk membebaskan Palestina dan menegakkan kembali Khilafah Rasyidah. Umat yang terpecah belah oleh sekat nasionalisme semu harus segera bersatu.

Mengembalikan Kemuliaan Islam

Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita harus sadar bahwa dalam diri kita mengalir semangat kepemimpinan para khalifah dan keberanian pahlawan besar seperti Al-Mu’tasim, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan Muhammad Al-Fatih. Mereka membuktikan bahwa Islam pernah berjaya selama hampir 14 abad lamanya. Saat ini, Partai Islam ideologis terus berjuang siang dan malam untuk memimpin serta membimbing umat. Menegakkan Khilafah adalah perjuangan yang besar, agung, dan vital sebuah kewajiban yang menjadi tanggung jawab bagi kita semua untuk mengembalikan kehormatan umat yang telah lama hilang.

Khatimah

Sistem pendidikan dengan berhukum pada aturan manusia sudah terbukti gagal total. Generasi berakhlak mulia hanya menjadi ilusi selama sistem sekuler tetap dipertahankan. Hanya dengan kembali tegaknya Khilafah dan penerapan syariat Islam secara kaffah, kemuliaan umat dan keberkahan bagi alam semesta dapat diraih kembali.

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 3

Comment here