Opini

Guru Dikeroyok Murid, Ironi Sistem Pendidikan Indonesia

Bagikan di media sosialmu

Oleh : Miftahul Jannah, S.Si. (Aktivis muslimah)

wacana-edukasi.com, OPINI–Sebuah video yang memuat aksi perkelahian antara seorang guru dengan beberapa murid viral di media sosial. Diketahui peristiwa tersebut terjadi di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi. Guru bernama Agus Saputra adu jotos dengan siswanya dan guru tersebut melaporkan peristiwa tersebut ke Polda Jambi sebagai penganiayaan.

Agus mengatakan saat berjalan di depan kelas dia mendengar salah satu murid menegurnya dengan kata-kata tidak pantas. Lalu dia masuk ke kelas dan minta murid di kelas mengaku siapa yang mengucapkan kata-kata tidak pantas itu. Salah satu murid mengaku dan malah menantang dirinya. Sehingga dia menampar murid itu sebagai bentuk pendidikan moral. Sementara menurut pengakuan murid, guru tersebut seringkali menghina murid dengan perkataan “miskin” yang memicu keributan tersebut (detiknews.com, 17/1/2026).

Peristiwa ini patut kita sayangkan, karena ini tidak hanya mencoreng citra pendidikan tapi juga bertolak belakang dengan visi besar menuju Indonesia emas 2045. Indonesia bercita-cita membentuk SDM yang berkualitas yang harapannya diperoleh dari pendidikan yang baik dan berkualitas pula. Tapi peristiwa ini seolah menunjukkan potret buram pendidikan Indonesia dimana pendidikan saat ini tidak sedang baik-baik saja. Hubungan guru dan murid yang harusnya dibangun dengan penuh penghormatan dan keteladanan justru berubah menjadi hubungan yang penuh ketegangan, permusuhan bahkan berujung pada kekerasan.

Murid bertindak tidak sopan, kasar dan kehilangan adab. Sementara guru sendiri juga kerap menghina, merendahkan atau melukai perasaan muridnya. Kedua pihak, baik guru dan murid terjebak pada lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan.

Buah Pendidikan Sekuler

Meskipun negara Indonesia masih mewajibkan pelajaran agama di setiap jenjang pendidikan. Tapi tidak bisa dipungkiri kebijakan pendidikan semakin tahun cenderung semakin sekuler. Ini bisa dilihat dari adanya upaya untuk mengakomodasi beragam pandangan dan nilai-nilai lain (selain islam) pada pelajaran yang diberikan kepada murid. Belum lagi ada kebijakan dimana materi dalam pelajaran agama dibatasi bahkan dihapus pada pelajaran agama di tingkat menengah atas. Seperti materi tentang jihad dan khilafah yang sekarang hilang. Padahal ini adalah syari’ah Allah yang harus diketahui semua umat Islam.

Sebenarnya sekularisasi ini sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda, dimana pendidikan terpolarisasi menjadi 2, yakni sekolah sekuler barat yang tidak mengajarkan agama dan pondok pesantren yang hanya mengajarkan ilmu agama. Polarisasi seperti ini masih terus berlangsung sampai sekarang, hanya saja ada beberapa kompromi dimana ada modernisasi di dunia pesantren dan sekolah negri wajib mengajarkan agama tapi dengan porsi yang sangat sedikit. Akibatnya agama tidak lagi menjadi ruh bagi sistem pendidikan nasional yang tentu saja berdampak buruk terhadap moral generasi bangsa. Sebab adab, moral dan akhlak bersumber dari nilai-nilai agama terutama agama Islam. Maka tidaklah heran jika saat ini banyak perilaku guru (hasil dididikan generasi sebelumnya) dan murid menjadi minim adab dan akhlak seperti peristiwa di Jambi tersebut.

Berilmu dan Beradab

Islam memandang bahwa pendidikan bukan hanya sekedar menghasilkan orang-orang yang berkualitas, pintar dan berilmu saja. Melainkan juga memebentuk orang-orang yang beradab dan berkepribadian Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah bahwa tujuan diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak :

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak ” (HR Bukhari)

Ulama-ulama sepeninggal Rasulullah juga sangat perhatian pada masalah adab dan akhlak. Mereka mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu. Imam Malik pernah berkata :

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu”.

Ibnu Sirin juga pernah berkata :

” Mereka-para ulama-dahulu mempelajari adab sebagaimana mereka menguasai ilmu”

Begitulah Rasulullah dan para ulama selalu mengingatkan tentang pentingnya adab dan akhlak.

Salah satu wujud adab murid kepada guru adalah dengan memuliakannya, memperlakukannya dengan penuh ta’dzim. Karena Islam menempatkan orang yang berilmu (guru) di posisi yang mulia. Dalam Alquran tegas dijelaskan bahwa tidak sama antara orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu (QS Az-Zumar : 9). Allah juga mengangkat derajat mereka beberapa derajat ( QS Al-Hujurat : 11).

Begitulah tradisi keilmuan dalam Islam, penghormatan (ta’dzim) terhadap guru benar-benar dipraktikkan. Karena inilah yang menjadi salah satu keberkahan ilmu dan bisa menjadi kunci kejayaan peradaban Islam.

Guru dalam Islam menempati posisi yang mulia. Karena menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Mereka memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik, mengajarkan ilmu serta memberikan keteladanan yang baik bagi muridnya. Karena besarnya tanggung jawab ini maka bagi seorang guru ia harus menempa dirinya dengan ketaatan kepada Allah. Dalam kitab Adabul ‘alim wal muta’alim karya KH. Hasyim Asy’ari disebutkan : “Jika seorang guru hendak menghadiri majelis pengajarannya hendaknya ia bersuci, membersihkan diri dan memakai pakaian terbaik dan wewangian dengan tujuan mengagungkan ilmu dan menghormati syariat. Guru juga berniat mendekatkan diri kepada Allah, menyebarkan ilmu yang mulia, menghidupkan Islam, selalu meningkatkan ilmu, selalu mengingat dan berdoa kepada Allah”.

Ini menunjukkan bahwasanya dalam proses belajar mengajar Islam mengajarkan saling menjaga adab ataupun akhlak dari masing-masing pihak baik guru maupun murid.

Suasana saling menjaga adab ini sulit muncul tanpa peran dan hadirnya negara. Karena negara sebagai institusi tertinggi dengan seperangkat aturan yang dimiliki akan bisa mengatur dan memastikan kurikulum pendidikan yang diajarkan berlandaskan akidah Islam. Setiap pelajaran diarahkan membentuk kepribadian Islam bukan sekedar output pendidikan yang bisa memenuhi kebutuhan pasar. Bukan hanya sistem pendidikan sistem yang lain pun seperti sistem ekonomi, sistem politik, sistem sanksi, sistem peradilan, sistem sosial, dll juga harus berlandaskan akidah Islam. Semua sistem yang berlandaskan akidah Islam tersebut hanya bisa dilaksanakan oleh negara yang menerapkan Islam kaffah, yakni Khilafah. Sistem yang diwajibkan oleh Allah dan diwariskan Rasulullah. Oleh karenanya upaya untuk mewujudkannua harus terus dilakukan. Dengan dakwah yang mengikuti metode Rasulullah dengan membentuk pemahaman yang benar pada masyarakat dan tanpa kekerasan. Dengan terus-menerus dakwah mengikuti Rasulullah, semoga datangnya khilafah tidak lama lagi. Aamiin

Disclaimer

Wacana Edukasi adalah sarana edukasi masyarakat. Silakan kirimkan tulisan anda ke media kami. Wacana Edukasi akan melakukan seleksi dan menayangkan berbagai naskah dari Anda. Tulisan yang dikirim bisa berupa Opini, SP, Puisi, Cerpen, Sejarah Islam, Tsaqofah Islam, Fiqih, Story Telling, Olah raga, Kesehatan, Makanan, ataupun tulisan lainnya. Tulisan tidak boleh berisi hoaks, mengandung SARA, ujaran kebencian, dan bertentangan dengan syariat Islam. Tulisan yang dikirim sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

Views: 1

Comment here