Oleh: Ilma Mahali Asuyuti
wacana-edukasi.com, OPINI--Kondisi Gaza kini tetap dalam kehancuran, kelaparan, ratusan ribu warga hidup di tenda pengungsian dan pendidikan terhenti. Sedangkan di Tepi Barat, tindak kekerasan, pembunuhan, penembakan dan penggusuran terus terjadi. Baik oleh tentara Israel Defense Forces (IDF) maupun oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina.
Mengutip Kompas.id, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, memperkenalkan gagasan pembentukan Dewan Perdamaian (Board of Peace). Pada 18 Januari 2026 ia mengundang sejumlah negara untuk bergabung ke dalam Board of Peace, dengan kewajiban kontribusi tunai 1 Miliar dollar AS (sekitar 17 Triliun rupiah) selama 3 tahun untuk membiayai rekonstruksi Gaza. Namun presiden AS tersebut mengancam tarif 200 persen terhadap produk Anggur Prancis pada 19 Januari 2026 setelah muncul sinyal Prancis menolak undangan untuk bergabung ke dalam Board of Peace (BoP).
Pada 22 Januari 2026, Trump secara resmi meluncurkan BoP dan tercatat 19 dari 36 Negara undangan menandatangani piagam sebagai bukti bergabung ke dalam BoP. Di antaranya adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Mesir, Jordania, Pakistan, Turki, Indonesia dan negara-negara lainnya.
Menurut The Times of Israel, tujuan BoP ini adalah untuk memulihkan pemerintahan sah dan menciptakan perdamaian berkelanjutan di wilayah konflik. Namun pada faktanya, Palestina sendiri justru tidak diikut sertakan dalam rencana perdamaian ini, sedangkan BoP ini dibangun oleh AS dan Israel yang notabene adalah sumber penjajahan di Palestin (Kompas.id, Kamis, 19 Februari 2026).
Krisis yang terus terjadi di Gaza dan Tepi Barat disebabkan oleh Israel yang terus menerus melanggar dan mengkhianati perjanjian damai dan gencatan senjata. Warga Palestina sendiri skeptis terhadap BoP buatan Trump, karena selama ini AS selalu berpihak pada Israel dalam kebijakan politik dan militer, bahkan AS menggunakan Hak Veto (hak istimewa atau kekuasaan khusus untuk membatalkan atau menolak keputusan, ketetapan, rancangan peraturan dan undang-undang atau resolusi) di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk membela Israel.
Pada dasarnya, karakter kaum Yahudi (Israel) adalah suka berkhianat. Mereka mengingkari apa yang mereka ucapkan, termasuk mengkhianati janji damai dengan Palestina, karena yang mereka inginkan adalah Negara, tanah dan kekayaan yang ada di tanah Palestina. Termasuk AS (Trump) yang mendukung Israel untuk mendapatkan keuntungan, sekaligus menghapus dan mengusir kaum muslim.
Telah jelas Allah SWT berfirman bahwa sampai kapan pun orang-orang kafir tidak akan ridha kepada kaum muslim, sebelum kaum muslim masuk agama mereka.
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka…” (QS Al Baqarah : 120).
Keberadaan BoP ini, akan digunakan oleh AS (Trump) dan Israel untuk legitimasi pembersihan etnis, khususnya Islam dan kaum muslim, genosida, dan perampasan tanah Palestina. Mereka ingin menghapus etnis, dengan menyerang seluruh warga Palestina, bukan hanya menyerang Hamas seperti yang mereka ucapkan. Terbukti bahwa korban dari genosida tersebut adalah anak-anak, perempuan, warga sipil dan semua yang ada di Palestina, termasuk fasilitas-fasilitas yang digunakan untuk pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
AS (Trump) dan Israel, melalui BoP, memanfaatkan penguasa negeri-negeri muslim untuk melegitimasi dan mendukung rencana jahat AS dan Israel mewujudkan ” New Gaza”. Padahal sebenarnya, tujuan mereka jelas ingin mengusir kaum muslim Palestina dari tanah mereka sendiri dengan terus menerus melakukan genosida.
Sayangnya, penguasa negeri-negeri muslim seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Mesir bahkan Indonesia justru ikut bergabung ke dalam BoP buatan penjajah itu sendiri.
Padahal, jika saja seluruh kaum muslim, termasuk para penguasa muslim bersatu dan mengumpulkan kekuatan militernya, maka akan mampu mengusir dan mengalahkan Israel yang notabene hanya etnis kecil yang dibacking AS. Sedangkan jumlah seluruh kaum muslim di dunia lebih banyak dari pasukan mereka.
Berdirinya BoP dengan tujuan untuk perdamaian, sesungguhnya merupakan suatu hal yang diragukan, karena BoP itu sendiri dibuat oleh para penjajah tanpa melibatkan korban penjajahan. Perdamaian tanpa melibatkan korban merupakan ilusi dan berarti tidak bertujuan untuk berdamai.
Sejatinya, perdamaian bagi Israel hanyalah janji yang akan terus dilanggar. Terbukti sudah beberapa kali mereka menyatakan gencatan senjata, namun tidak lama setelah itu mereka kembali melemparkan serangan ke Palestina. Dari sini seharusnya para penguasa muslim tidak percaya, apalagi mendukung perdamaian dengan Israel, selain karena mereka yang suka berkhianat, mereka juga sangat membenci dan memusuhi Islam.
Al-Quran telah menjelaskan bahwa :
“Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. …”(QS Al Maidah : 82).
AS dan Israel jelas merupakan negara kafir yang bersekutu untuk menguasai dunia dengan cara penjajahan politik, ekonomi maupun militer. AS sendiri memiliki track record panjang sebagai penjajah besar, AS melakukan sejumlah invasi, kudeta dan penghancuran negeri-negeri muslim, seperti Afganistan, Irak, Libya, Suriah, Sudan dan negeri muslim lainnya yang menjadi korban penjajahan mereka.
Para penguasa muslim yang ikut bergabung dan terlibat ke dalam BoP merupakan pengkhianatan terhadap Palestina. Padahal Allah SWT telah menegaskan di dalam Al Quran :
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin” (QS Al Maidah : 51).
Oleh karena itu, penjajahan dan kejahatan Israel dan sekutunya AS terhadap Palestina tidak bisa diselesaikan apalagi diputihkan hanya dengan BoP, umat harus bersatu melawan penjajahan Israel dan membebaskan Palestina.
“… Allah tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman”
(Terjemah QS An Nisa : 141)
Bersatunya umat Islam di seluruh dunia, membutuhkan institusi yang mengatur umat dalam satu aturan, pemikiran dan perasaan yang sama yakni Islam dan menempatkan cinta dan benci dengan standar Ridha Allah, bukan karena kepentingan dan manfaat. Institusi ini yaitu Khilafah. Pemimpin dalam Khilafah, yaitu Khalifah akan mengerahkan pasukan untuk berjihad dan mengusir Zionis dari Palestina.
Pasukan militer Islam turun atas dasar akidah untuk membela kehormatan kaum muslim. Jihad untuk melawan musuh Islam yang memerangi Islam dan kaum muslim telah Allah SWT perintahkan,
“Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu”
(Terjemah QS Al Baqarah : 191)
Karena itu, umat Islam di seluruh dunia sangat membutuhkan Khilafah, karena hanya dalam Khilafah, seorang Khalifah mampu menjadikan dirinya sebagai perisai untuk melindungi kaum muslim atas dasar keimanan dan memenuhi amanahnya sebagai pengurus umat. Maka, mendirikan Khilafah adalah pilihan rasional di tengah ancaman global AS dan Barat yang semakin meningkat terhadap negeri-negeri muslim.
Views: 9


Comment here