Oleh: Ummu Syathir
Wacana-edukasi.com, OPINI–AS menggulingkan dan menangkap presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta isterinya, AS menuduh Maduro, yang didakwa dengan perdagangan narkoba dan pelanggaran senjata, menjalankan rezim “narko-teroris” klaim yang telah Maduro bantah. (BBC, 05/01/2026). Mahkamah Konstitusi kemudian memberi wewenang kepada Rodriguez untuk memimpin Venezuela. Trump menegaskan bahwa Rodriguez telah berkontak dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, menurut Trump, Rodriguez pada dasarnya bersedia melakukan apa yang kami pikirkan perlu untuk membuat Venezuela “kembali hebat”. (BBC, 05/01/2026).
Venezuela merupakan salah satu negara dengan tingkat urbanisasi tertinggi di amerika Latin. Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar didunia. Venezuela sendiri diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mengalahkan negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Iran. Menurut data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, Venezuela yang merupakan salah satu pendiri OPEC memiliki cadangan minyak terbesar di dunia sebesar 303 miliar barel atau 17 persen dari cadangan global (https://www.cnbcindonesia.com, 04/01/2026).
Venezuela telah lama menjadi proxy bagi perebutan pengaruh geopolitik dan budaya antara AS dan negara China dan Rusia. Bagi AS bisa menduduki Venezuela merupakan kemenangan yang menghapus ancaman langsung, mengamankan akses minyak dan melemahkan pengaruh China dan Rusia di Negara tersebut. Trump menegaskan bahwa: “Kami akan membawa perusahaan minyak AS yang sangat besar untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, termasuk infrastruktur minyak, Mari kita mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” (CNBC, 4/1/2026). Disisi lain Rusia kehilangan sekutu kunci yang menyediakan minyak bagi sanksi Ukrina, sementara China merugi besar melalui Belt and Road Initiative serta kesepakatan oil for loans, sehingga sangat wajar tindakan AS ini memicu respon keras dari negara super power lainnya, yang menganggap hal tersebut sebagai ancaman strategis mereka.
Persaingan, perselisihan dan konflik yang ada saat ini antara AS sebagai negara adidaya pertama dan negara-negara lainnya seperti Rusia, China, Inggris dan Perancis baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan seperti masalah Venezuela, Irak, Timur Tengah dan masalah Internasional lainnya, tidak lain karena penjajahan dan dominasi dengan motif meraih manfaat material dan sumber daya alam, hal ini secara nyata mengobarkan berbagai perang lokal dan perang dunia.
Hegemoni AS, Buah dari Penyebaran Idologi Sekuler
Sungguh perubahan konstelasi internasional terjadi sesuai perubahan sebagian negara, bisa terjadi karena kekuatannya atau kelemahannya dan hubungannya dengan berbagai negara, yang semuanya tergantung dari ideologi yang menjadi asas suatu negara. AS merupakan sebuah negara yang menganut ideologi sekuler, yang memiliki fikroh (konsep) pemisahan agama dari kehidupan dan bermaksud menyebarkannya dan memimpin seluruh dunia. Untuk mengimplementasikan fikroh tersebut membutuhkah thoriqoh (tatacara implementasi fikroh) yakni dengan imperialisme yaitu pemaksaan dominasi politik, milter, budaya dan ekonomi atas bangsa-bangsa yang dikuasai untuk dieksploitasi.
Dari fikroh dan thoriqoh tersebut, AS menyusun strategi dalam menyebarkan ideologinya diantaranya apa yang dilakukannya terhadap Venezuela, tindakan militer AS yang dilakukan secara sepihak serta penangkapan presiden Venezuela untuk dibawa dan diadili di AS merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap tatanan hukum internasional, kasus ini akan serupa dengan apa yang telah banyak terjadi pada negara-negara lain yang diduduki secara sepihak oleh AS, sebagaimana apa yang terjadi di Irak, politik AS terhadap Irak dengan pendudukan tanpa resolusi Internasional, lalu mewujudkan pemerintahan yang melegitimasi pendudukan melalui pengesahan internasional dari PBB, juga merekayasa pemilu yang mendukung keberlangsungan pendudukan, sehingga menjadi sah sebab didasarkan pada persetujuan rakyat negeri Irak, hal ini menjauhkan negara-negara lain dan Dewan Keamanan PBB untuk mengintervensi masalah Irak dan menjadikan AS sebagai satu-satunya pengelola segala urusan Irak.
AS telah memainkan percaturan dunia sejak setelah perang dunia II dan sejak berakhirnya masa détente dan runtuhnya Uni Soviet pada awal tahun 90-an, hingga kini AS menjadi negara adidaya pertama, negara dengan kekuatan ekonomi, politik, dan militer yang dominan. Sehingga menjadikan AS berpengaruh terhadap politik internasional. Ketika Uni Soviet akhirnya runtuh pada tahun 1991, hegemoni Amerika mengalami kesempurnaan. Amerika Serikat duduk di puncak sistem internasional dan tidak memiliki saingan yang berat untuk memperebutkan kepemimpinan global (Babones, 2015). Pada akhir abad 20 muncul satu istilah yang sangat populer, yaitu globalisasi. Secara sederhana, globalisasi adalah sebuah upaya sekelompok bangsa untuk melakukan eksploitasi dan dominansi atas bangsa-bangsa lain di seluruh muka bumi ini. Aktivitas politik kemudian menggantikan posisi militer dalam pemecahan masalah, saat itu banyak terjadi arbitrase dengan menggunakan undang-undang internasional dalam hubungan internasional.
Amerika Serikat mampu mendominasi ekonomi pasca Perang Dunia II karena negara-negara lain contohnya Jepang dan Inggris sedang mengalami kekalahan pasca perang sehingga perekonomian mereka memburuk. Hal ini kemudian mendorong Amerika Serikat untuk mengambil peran sebagai negara dengan kekuatan ekonomi yang besar dan membuat Amerika Serikat bertanggung jawab dalam menciptakan kestabilan dalam perekonomian dunia. Kondisi ini juga membuat Amerika Serikat dapat dengan mudah membuat peraturan-peraturan ekonomi dan menciptakan institusi-institusi yang mendukung peraturan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan terciptanya Bretton Woods System yang kemudian melahirkan lembaga perekonomian dunia seperti IMF, World Bank, dan GATT. Dengan adanya sistem ini mampu membuat perekonomian Amerika Serikat berada dalam puncak kejayaannya.
Dunia Membutuhkan Kepemimpinan Yang Menciptakan Rahmat.
Hingga saat ini AS memegang posisi negara adidaya sekaligus sebagai jantung utama peradaban kapitalisme-sekuler, namun berbagai gejolak politik, militer, ekonomi dan sosial menerpa negara tersebut dan menyebarkan kerapuhannya diseluruh dunia. Kapitalisme global terbukti gagal dalam menyelesaikan masalah kemanusiaan, bahkan kapitalisme dijadikan sebagai alat dalam menghisap kekayaan negara lain. Penyebab utama kegagalan kapitalisme-sekuler sebab ideologi tersebut bertentangan dengan fitrah manusia, menjadikan manusia sebagaipusat segalanya. Penjajahan telah menjadi metode baku bagi negara-negara kapitalis untukmenyebarluaskan ideologinya sehingga dapat mengontrol sumber ekonomi negara jajahannya.
Oleh karena itu, dunia membutuhkan kepemimpinan yang dapat melindungi dunia dari berbagai kerusakan dan dominasi paksa atas yang lain, dan itu hanya dapat terwujud dengan kepemimpinan islam melalui institusi khilafah, khilafah adalah kunci kegemilangan peradaban islam, peradaban yang telah memberikan tinta emas dalam perjalanan kehidupan manusia dalam bebagai aspeknya, yang pernah menebar rahmat hingga 1300 tahun sejak Rasulullah Saw. membangun Negara Islam pertama di Madinah dan kemudian dilanjutkan oleh para khalifah, islam diterapkan di tengah masyarakat secara nyata, menjadikan dunia berada pada puncak peradaban yang agung dan mulia. Will Durant, seorang penulis, filosof dan sejarahwan berkebangsaan Amerika di dalam bukunya, The Story of Civilization, mengungkapkan: “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka…”
Penyebaran islam ke seluruh dunia dengan futuhat melalui dakwah dan jihad, bukan dengan penjajahan (dominasi secara paksa), motif futuhat adalah akidah, tujuan jihad bukan untuk mendapatan materi (ghanimah) atau jizyah, juga bukan ajang untuk mendapatkan popularitas dan melampiaskan nafsu berkuasa, namun untuk meninggikankalimat Allah Swt. Zat yang berhak mengatur dunia. Musa al-Asyari menyatakan bahwa seseorang pernah mendatangi Rasulullah Saw. dan bertanya: “Wahai Rasulullah, ada seorang laki-laki yang berperang demi mendapatkan ghanimah, ada seorang laki-laki yang berperang supaya dirinya dikenal sebagai pahlawan, ada pula seorang laki-laki yang berperang agar dirinya dihormati, maka siapakah yang disebut berjuang di jalan Allah?” maka Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa berjuang untuk menegakkan kalimat Allah setinggi-tingginya, maka itulah yang disebut berjuang di jalan Allah.”
Dengan dakwah dan jihad kemuliaan dan keadilan islam dapat tersebar dan menaungi umat manusia, membebaskan mereka dari kegelapan dan kehinaan di dunia dan akhirat, paradigma inilah yang mendorong kaum muslim sejak masa Rasulullah Saw. dan era khilafah islam selama berabad-abad terus melakukan futuhat keberbagai penjuru dunia. “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.” (QS Al Anbiya: 107).
Views: 5


Comment here